KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI PENDIDIKAN
A. Definisi Kepemimpinan
Garry yukl, menyimpulkan definisi yang mewakili tentang kepemimpinan antara lain :
1. Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas –aktifitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingindicapai bersama.
2. Kepemimpinan adalah proses pengaruh aktifitas suatu kelompok yang diorganisasikan kearah pencapaian tujuan.
3. Kepemimpinan sebagai sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh sengaja dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktifitas – aktifitas serta hubungan-hubungan di dalam sebuah kelompok atau organisasi.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai hubungan dimana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerjsama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas – tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.
Selain itu kepemimpinan dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan penataan berupa kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain dalam situasi tertentu agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B. Peran Pemimpin
Peran pemimpin memiliki kemampuan untuk menentukan tindakan-tindakan apa sebaiknya harus dilakukan agar dapat mencapai tujun-tujuan kelompok. Hal tersebut mengharuskan adanya pengertian tentang bagaimana tindakan-tindakan sebagi seorang pemimpin akan mempengaruhi pekerjaan kelompok maupun anggota-anggota kelompok yang bersangkutan. Ia mencakup pembuatan keputusan secara efektif dan implementasinya.
Seorang pemimpin harus mampu memberikan bantuan praktis kepada para pengikutnya. Kepentingan memerlukan adanya pengikut-pengikut. Agar supaya efektif, seorang pemimpin harus mempertahankan dan mengembangkan penerimaan secara kontinue dan kepercayaan para anggota kelompok.
Keterlibatan seorang pemimpin meliputi kemampuan untuk bukan saja mendalami diri sendiri dalam bidang pekerjaanya sendiri, tetapi pula dengan manusia.
C. Tipologi Kepemimpinan
1. Tipe otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang mempunyai kriteria atau ciri sebagai berikut : Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, dalam tindakan penggeraknya sering menggunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2. Tipe militeristik. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin yang tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : dalam menggerakkan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatan, senang pada formalitas yang berlebih-labihan, menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, sukr menerima kritikan dari bawahannya, menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3. Tipe paternalistik. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : Menganggap bawahannnya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective) , jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap mana tahu.
4. Tipe karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunayi daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Akarena kurrangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib ( supra natural powers ). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kenndy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun masih muda pada waktu terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Ghandi tidak dapat digolongkan orang yang ”ganteng”.
5. Tipe demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratis yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bwahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahnnya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.
D. Teori – teori Kepemimpinan
Dewasa ini terdapat macam-macam teori kepemimpinan. Di dalamnya termasuk perbedaan dalam pendapat, motodologi keterangan dan kesimpulan. Ada enam teori tentang kepmimpinan diantaranya :
1. Teori Keadaan
Pada teori ini kpemimpinan teridiri dari empat variable yaitu : pemimpin, para pengikut organisasi dan pengaruh –pengaruh sosial, ekonomi dan politik. Walaupun semua variable penting, banyak perhatian dutujukan kepada organisasi dan lingkungan sosial, ekonomi, dan politik.
Kepemimpinan harus terdapat cukup fleksibilitas agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda-beda.
2. Teori Kelakuan Pribadi
Kepemimpinan dapat pula dipelajari atas dasar kwalitas pribadi atau pola kelakuan para pemimpin. Salah satu sumbangsih penting teori ini adalah bahwa seorang pemimpin tidak berkelakuan sama ataupun melakukan tindakan – tindakan sama dalam situasi yang dihadapinya.
3. Teori Supportif
Disini oihak pemimpin mengambil sikap bahwa para pengikut ingin melaksanakan usaha mereka sebaik – baiknya dan memimpin mereka sebaiknya dilakukan dengan jalan mensupport usaha-usaha mereka.
Pemimpin melaksanakan pengawasan manejerial secara umum dan mendorong bawahannya untuk menggunakan kreatifitas dan inisiatif mereka dalam hal mengerjakan detail dari pada pekerjaan mereka.
Keuntungan dari teori ini adalah bahwa praktek membantu pengikut dan memperlakukan mereka sebagi individu sesuai dengan harkat dan hak-hak manusia menyebabkan pegawai menjadi koperatif, produktif dan puas.
4. Teori Sosiologis
Pada teori ini kepemimpinan dianggap terdiri dari usaha –usaha kerja yang :
a. Membantu aktifitas –aktifitas para pengikut dan
b. Berusaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara pengikutnya.
Pemimpin menetapkan tujuan – tujuan dimana para pengikut turut berpartisipasi dalam bidang pembuatan keputusan akhir. Identifikasi tujuan memberikan arah yang seringkali diperlukan oleh para pengikut.
5. Teori Psikologis
Menurut teori ini menyatakan bahwa fungsi pokok seorang pemimpin adalah mengembangkan sistem motivasi yang terbaik. Kepemimpinan yang memotivasi sangat memperhatikan sifat – sifat bawahan seperti : pengakuan, lepastian emosional dan kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan keinginan – keinginan dan kebutuhan – kebutuhan orang. Pemuasan kebutuhan demikian dengan cara yang membantu agar organisasi lebih berhasil merupakan hal yang harus dilaksanakan oleh pemimpin teori psikologis. Program-progam untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan tersebut merupakan tantangan bagi pemimpin psikologis.
6. Teori Otokratis
Kepemimpinan berdasarkan teori ini menekankan perintah – perintah, paksaan – paksaan, pemimpin disini cenderung memuaskan perhatiannya terhadap pekerjaan, ia mengadakan supervisi ketat agar pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan ia memanfaatkan pengukuran- pengukuran dalam bidang poduksi untuk mencapai tujuannnya.
Pemimpin otokratis mengunakan perintah – perintah yang umumnya dibantu dengan sanksi – sanksi. Dan disini disiplin merupakan hal yang terpenting.
E. Perilaku – perilaku Kepemimpinan Yang Efektif
Seorang pemimpin harus mempunyai keterlibatan meliputi kemampuan untuk bukan saja mendalami diri sendiri dalam bidang pekerjaan kita sendiri, tetapi pula dengan manusia.
Untuk menjadi pemimpin yang efektif, perlu adanya faktor – faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin meliputi :
1. Kepribadian pengalaman masa lalu dan harpan hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya.
2. Pengharapan dan perilaku atasan.
3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan, mempengaruhi terhadap gaya kepemimpinan manajer.
4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.
5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku kebutuhan.
6. Harapan dan perilaku rekan.
F. Pemimpin Dinamis Sebagai Teladan
Ada beberapa perilaku pimpinan yang menjadi teladan untuk dikiuti anak buahnya, dean hal ini akan berpengaruh posistif dalam proses kepemimpinannya. Sikap dan prilaku yang dapat mmpenaruhi bawahannya adalah:
1. Pemimpin yang mempunyai gagasan dan pemikiran pembaharuan (inovasi)
Mereka mencari kesempatan untuk mengubah status quo. Mereka mencari cara yang inovatif untuk meningkatkan organisasi. Mereka melakukan eksperimen dan mengambil resiko. Dan karena pengambilan resiko melibatkan kesalahan dan kegagalan, pemimpin menerima kekecewaan sebagai kesempatan belajar.
2. Pemimpin yang menjadi wawasan dan inspirasi bersama
Mereka secara pribadi meyakini bisa membuat perbedaan. Mereka membayangkan masa depan, menciptakan bayangan yang ideal dan unik tentang bisa menjadi apa masyarakat, keagenan, atau organisasi. Melalui daya tarik dan bujukan, pemimpin mengajak orang lain dalam impian. Mereka mengembuskan napas kehidupan ke dalam wawasan bersama dan membuat orang lain melihat kemungkinan masa depan yang menarik.
3. Pemimpin yang mampu member motivasi orang lain. bisa bertinda
Mereka mengajukan kerjasama dan membentuk tim yang bersemangat. Mereka secara aktif melibatkan orang lain. Pemimpin memahami bahwa rasa laing menghormati adalah usaha yang sangat baik; mereka berusaha keras menciptakan suasana kepercayaan dan martabat manusia. Mereka memperkuat orang lain dengan berbagai informasi dan memberikan pilihan. Mereka memberikan kekuasaan, membuat setiap orang merasa mampu dan berkuasa.
4. Pemimpin yang menjadi pengarah yang jelas
Mereka menciptakan standar keunggulan, dan kemudian memberikan teladan untuk diikuti lain. Mereka menetapkan nilai-nilai tentang bagaimana peserta, rekan kerja, dan pelanggan harus diperlakukan. Karena perubahan yang rumit bisa membuat kewalahan dan mematikan tindakan, pemimpin mencapai kemenangan-kemenangan kecil. Mereka membongkar birokrasi, memasang papan tanda, dan menciptakan kesempatan untuk kemenangan.
5. Pemimpin yang menjadi penyemangat hati dan jiwa
Menyelesaikan banyak hal yang luar biasa dalam organisasi adalah kerja keras. Untuk menjaga agar harapan dan tekad tetap hidup, pemimpin menghargai sumbangan yang diberikan individu dalam mendaki ke puncak. Dan karena setiap tim yang merebut kemenangan perlu berbagi imbalan usaha, pemimpin merayakan keberhasilan. Mereka membuat setiap orang merasa seperti pahlawan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar